My Photo Stories

Catatan Perjalanan Merapi 2010

Kereta Api Bima akan membawa kami ke Joggjakarta untuk sebuah liputan Bencana Alam meletusnya Gunung Merapi di Jogjakarta.

tuit…tuit…tuit… alarm di HP membangunkan, waktu menunjukkan pukul 00.00. Namanya juga dalam perjalanan tidur seadanya, terlebih akan turun di Stasiun antara bukan stasiun akhir perjalanan sehingga harus siap-siap. Setelah ini tidak bisa memejamkan mata. Sekitar pukul 01.00 membaca twitter dari @bayugawtama yang menyatakan bahwa Merapi kembali meletus sekitar pukul 00.40 dini hari. Dan ternyata malam itu di twitter sudah ramai dengan pemberitaan mengenai hal ini.Sepanjang perjalanan membayangkan situasi yang terjadi melalui Twitter.

Pukul 01.25 tepa kereta Bima yang kami tumpangi merapat di Stasiun Tugu Jogjakarta keadaan masih sangat sepi hanya ada beberapa pedagang asong yang menjajakan dagangan. Untuk menunggu seorang teman yang akan datang dari arah Bandung, kami pun mencari warung kopi,

Di sebuah stasiun TV swasta sedang melakukan Breaking News mengenai Erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini.Dalam berita itu dikabarkan awan panas sudah melewati Jalan Kali Urang (Jakal) KM 20. Tidak ada gambar mengenai kejadian ini hanya ada suara reporter yang sedang melaporkan keaadan seperti sedang terjadi kekacauan yang sangat luar biasa. Padahal suasana di Stasiun Tugu saat kami turun dari kereta sangat tenang dan belum ada hujan debu.

Ternyata laporan pandangan mata ini memicu kepanikan warga Jogjakarta karena yang dilaporkan awan panas padahal itu hanya abu vulkanik saja. Awan panas dan abu vulkanik tentu sangat lah berbeda sekali.

Saya perhatikan, memang sedikit berlebihan dalam melaporkan pandangan matanya, bahkan reporter sampai terbatuk-batuk ketika melaporkan seakan suasana sudah sesak sekali. Dan di sosial media twitter pun sudah ramai yang membicarakan  mengenai breaking news-nya yang meresahkan masyarakat.

Menjelang adzan subuh kami menyusuri stasiun Tugu menuju mushola, ternyata Jogja sudah mulai hujan abu. Dan nafas saya mulai terganggu sehingga harus menutup hidung dengan slayer yang dibawa.Walaupun hujan abu sudah masuk ke kota Jogja, namun masyarakat di sekitar stasiun beraktifitas seperti biasa tidak terlihat kepanikan. Hanya mulai banyak masyarakat yang menggunakan masker untuk menutup hidungnya.

Kami belum bisa beranjak dari Stasiun karena masih menunggu salah seorang rekan saya yang belum sampai. Sambil menunggu mencoba mencari tahu seperti apa yang terjadi malam tadi. Aktifitas di stasiun tugu memang tidak ada yang berubah sama sekali layanan masih terus berjalan, yang membedakan adalah penggunaan masker dari masyarakat yang ada di sana.

):(

Setelah bertemu kami mencoba keluar dari Stasiun Tugu dan ternyata abu sudah menutupi kendaraan yang di parkir cukup tebal ditambah dengan matahari yang engan mengeluarkan cahayanya. Nafaspun agak terganggu walaupun sudah menggunakan masker.

Hampir semua benda menjadi putih berdebu di sepanjang stasiun tugu. Abu cukup tebal menutupi kendaraan. Hujan debu tidak terlihat secara kasat mata, namun mata terasa pedih bila dihadapkan ke atas.

Kami menyusuri Jalan Pasar Kembang karena teman yang menjemput sudah ada di stasiun bagian selatan sehingga kami harus berjalan. Kami menembus hujan abu menyusuri jalan sambil mencoba mencapture dengan menggunakan kamera seadaanya, kami tidak berani mengeluarkan DSLR dengan keadaan seperti ini. Dengan kamera seadaanya kami coba membuat dokumentasi letusan merapi ini.

Sebelum menuju posko kecamatan Pakem Sleman, kami ke RS Sardjito terlebih dahulu untuk meminta masker untuk para pengungsi di Pakem, karena kebutuhan masker ini begitu besar sehingga agak sulit didapatkan di Jogjakarta ini. Alhamdulillah kami mendapatkan 1 Box masker untuk para pengungsi.

Ini merupakan letusan kedua setelah letusan pertama tanggal 26 Oktober 2010. Suasana pagi di Jogja ini berselimut kabut tebal. Dan kabarnya hujam abu kali ini sampai ke Tasikmalaya Jawa Barat ini lebih besar dari yang pertama yang mencapai Ciamis.

Pray For jogja, Pray For Indonesia

Semoga Indonesia akan lebih baik lagisatu sudut di RS Sardjito

Jakarta, 4 November 2010

Dudi Iskandar

Twitter n Instagram @abusyamil2004
FB dudi.iskandar@gmail.com
http://www.kangdudi.com
WA 08158301939

Toekangpoto keliling

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes