My Photo Stories

Labuan Bajo Aku Datang Padamu

Tidak terasa perjalanan Kapal Ramadhan sudah berjalan Empat hari. Dikumpulkan dalam satu kapal, menjadi satu kebersamaan yang indah. Malam ini merupakan malam terakhir di Kapal Ramadhan, karena sayah merupakan tim yang bertugas di Manggarai Timur NTT.

Selepas sahur dan subuh para relawan sudah menunggu datangnya Mentari di laut lepas. Dan yang bikin hepi sinyal data sudah ada lagi, sehingga kita bisa menghubungi keluarga. Tepat pukul 05.00 Wita sinyal itu hadir kembali, setelah hilang di telan lautan lepas.

Momen ini sangat jarang, jadi perlu di tunggu untuk bisa membekukan dalam bentuk foto. Pasti beda sensasinya melihat matahari terbit di lautan lepas.

Satu kata Amazing

Ya Allah engkau berikan kenikmatan melihat indahnya ciptaanMu. Sungguh saya sangat beruntung bisa bergabung dalam Kapal Ramadhan ini. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya dan networking semakin bertambah tentunya.

Secara perlahan Kapal Ramadhan mulai merapat ke Pelabuhan Labuan Bajo. Di Pelabuhan sedang ada KM Cakalang II sedang bersandar, jadi merapat di sebelah kapal itu. Otomatis tidak bisa langsung proses bongkar muat bantuan ke truk.

KM Cakalang II ini akan mulai berlayar menuju Bima dan Lombok. Ketika dua kapal merapat, ada cerita tersendiri. Tepat pukul 07.09 WITA merapat di Labuan Bajo, sayah seperti bermimpi menjejak di sini. Banyak sekali perahu perahu kecil di sini, mungkin yang melayani perjalanan ke Komodo atau Pulau Padar di sekitar Bajo ini.

Saya melihat pasar di dekat Pelabuhan, sebenarnya dah gatal pengen ke sana untuk membekukan waktu di Bajo. Namun harus persiapan packing barang karena akan turun di sini. Jadi lupakan pasar ikan itu ya ……. Cukup menjadi kenangan indah aja.

Suasana pagi di atas kapal, hari ini sangat indah lengkap dengan eksotiknya Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat).

Proses bongkar muat di mulai pukul 10.00 setelah KM Cakalang II berlayar. Relawan memulai kerjanya membantu proses bongkar muat ini.

Pukul 11.30 proses dihentikan sementara karena akan melaksanakan ibadah sholat jumat di Masjid Agung Labuan Bajo. Masjidnya tidak jauh dari pelabuhan dan di jangkau dengan jalan kaki saja. Alhamdulillah bisa melaksanakan sholat bersama saudara muslim di NTT. Kondisi memang panas betul di Bajo, namun tidak menyurutkan langkah untuk menuju rumah Allah.

Proses bongkar muat untuk tim Labuan Bajo selesai sekitar pukul 15.30, tim Nampar Sepang Manggarai Timur NTT, masih kurang truk satu buah. Tiba tiba nongol mobil pick up, entah salah pesan atau gimana. Karena Kapal harus segera berlayar lagi pukul 16.00, maka tiga Palet bantuan tidak jadi di ambil.

Bismillah menuju Nampar Sepang di Manggarai Timur

Perjalanan penuh liku segera di mulai dari Labuan Bajo, diperkiraan akan di tempuh dengan waktu 9 jam. Etape pertama Labuan Bajo – Ruteng.

“Yang bikin lama perjalanan adalah kelokan” ujar Babang Primus driver yang membawa kami.

Saya jadi teringat dengan Kelokan 44 di Sumatera Barat, jalan yang penuh kelok yang tajam. Ternyata di sini lebih tajam dan banyak sekali. Sampai pala berbie sering terantuk antuk di mobil. Tapi babang Primus keren cara nyupirnya, salut saya mah ama Babang Primus.

Ternyata goyangan laut itu belum seberapa. Goyangan kelokan Labuan Bajo ini lebih dahsyat, sampai ada rekan saya Mail (Relawan dari Sindrap) muntah muntah akibat kelokan ini.

Menjelang beduk magrib, menepi dahulu kita di pinggir jalan untuk sekedar membatalkan puasa dengan bekal. Ini adegan terindah yang saya rasakan selama perjalan ini. Ah pokoknya mah indah deh …. Walau hanya buka dengan kurma dan air putih serta cemilan cepuluh.

Setelah buka, kita lanjutkan perjalanan menuju Ruteng masih penuh dengan kelokan tentunya.

Tiba di Ruteng pukul 19.39 dihadapkan pada pilihan Nasi Padang, Soto atau Sate. Rasanya nyawa belum pada ngumpul deh. Akhirnya pilihan jatuh ke Sate Mas Nardi. Dan ternyata menu yang tersedia tinggal sate ayam saja menu yang lainnya sudah habis. Hebat bener ya jam segini udah habis, saya melihat beberapa pelangan yang datang dan kembali lagi karena yang di tuju sudah habis.

Pukul 19.53 baru datang pesanan minuman saja, satenya belum datang. Sambil nunggu sate sayah sudah habis dua bungkus krupuk hehehehehe, ga tau lapar atau kelaparan. Akhirnya Sate itu datang juga, kita sikat langsung aja.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah ke toko yang masih buka di Ruteng untuk membeli cemilan dan minuman teman perjalanan, karena perjalanan itu masih panjang.

Surprise ada Dodol Garut di jual di toko itu, sebagai turunan Garut tentu bangga banget. Norak ya

Pelayan di toko ini sangat ramah sekali, mungkin sudah ikut pelatihan servis excellen ya …. Lanjutkan kaka saya bangga padamu.

Kalau menurut Babang Primus, Ruteng itu ada di ketinggian dan Nampar Sepang ada di pesisir, jadi kita akan turun lagi dengan kelokan lebih banyak lagi.

Di Etape Ruteng-Nampar Sepang ini, saya hampir sepenuhnya tidur dengan pala banyak terantuk antuk. Namun saya ingat ada iringan masyarakat entah di desa apa bawa lilin di tengah gelap. Kata Babang Primus itu sedang ada acara apa gitu deh. Sayang momen ini terlewatkan oleh saya, mungkin Mbak Dyah mencatatnya.

00.17 welcome Nampar Sepang

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Manggarai Timur.

Merauke, 7 Juni 2018

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes