My Photo Stories

Labuhan Bajo, Bukan Impian Lagi

Labuhan Bajo impian banyak orang untuk bisa menikmati keindahan alamnya. Termasuk saya juga punya impian bisa menjejakkan kaki di sana. Labuhan Bajo memang seperti sebuah magnit yang sangat kuat untuk dikunjungi. Tahun 2018 impian saya bisa terwujud melalui sebuah perjalanan panjang kapal Ramadhan. Saya tergabung dalam Tim Relawan ACT yang akan memberikan bantuan kepada muslim NTT dan saya mendapatkan pos tugas di Desa Nampar Sepang, Kabupaten Manggarai Timur.

Lamanya pelayaran selama empat hari, berangkat dari Pelabuhan Garrokong Barru Sulawesi Selatan, menuju Labuhan Bajo. Sayangnya komunikasi tidak cukup lancar karena sinyal merupakan sesuatu yang sangat berharga sekali. Kami para relawan sangat merindukan sinyal yang bagus. Mendapatkan kabar dari orang terkasih memang seakan menjadi energi para relawan dalam bertugas.

Selepas sholat subuh berjamaah kapal Ferry lambat laun mulai memasuki area Labuhan Bajo. Apalagi yang di tunggu oleh kami para relawan, sunrise …… Ya benar melihat matahari terbit di lautan lepas itu sangat berbeda dengan di darat. Ada suasana yang sangat berbeda. Apakah teman-teman sudah merasakan melihat sunrise atau sunset di laut lepas? Jika sudah beda kan rasanya, ada rasa yang sulit digambarkan.

Ketika sinyal kembali ditemukan tepat pukul 05.00 WITA, wajah relawan berseri kembali karena bisa mengirim kabar kepada keluarga.

Bagi saya menunggu momen sunrise ini merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan. Walaupun misalnya matahari tidak muncul sesuai dengan harapan. Sebagai toekangpoto keliling tentu cerita di balik sebuah foto akan memberikan kesan dan kenagan tersendiri.

Banyak di antara relawan yang menunggu sunrise, karena ini menjadi pelabuhan pertama kali di kunjungi. Ketika sunrise datang, hampir semua relawan mengabadikannya. Pengalaman ini bakal menjadi kenangan terindah, kita bisa berbagi dan menikmati keindahan alam Indonesia Timur.

Angin lumayan kencang menerpa wajah wajah kami, namun itu tidak menghalangi kami untuk terus menunggu sang mentari pagi. Dari kejauhan aktivitas di Labuhan Bajo sudah mulai terlihat, lalu lintas kapal kapal di sekitar pelabuhan. Tanpa terasa hati saya melelh melihat keindahan alam Labuhan Bajo. Saya mencubit tangan saya, dan merasakan sakit. Itu sebuah pertanda kalau saya sedang tidak bermimpi. Alhamdulillah impian saya terwujud untuk melihat Labuhan Bajo. Meskipun bukan untuk menikmati secara khusus keindahan alam, namun ada tugas kemanusiaan yang lebih penting dan berharga.

Serta merta saya pun berteriak,”Labuhan Bajooooo…saya dataaaaaang!” Beberapa relawan ada yang memandang saya sekilas. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, ada pakah gerangan?

Senang tak terkira, tapi semua ini saya lakukan demi melampiaskan rasa gembira bisa melihat Labuhan Bajo. Kapal yang saya tumpangi belum bisa merapat ke Dermaga karena masih ada KM Cakalang II sedang bersandar. Ya, setiap kapal yang datang memang harus mengantri semua ada jadwal pemberangkatan. Jadi saya menikmati labuhan Bajo dari atas kapal saja, karena belum bisa bersandar di Dermaga. Masih ada kesempatan sejenak menikmati kehidupan. pelabuhan dari atas kapal. Dan di pelabuhan ini saya akan turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan jalur darat. Jadi momen ini saya manfaatkan betul untuk bisa menikmati Labuhan Bajo.

Tepat pukul 07.09 WITA Kapal Ramadhan merapat di dermaga Labuhan Bajo dengan selamat. Bercampur aduk bener perasaan ini, gembira, haru dan sedih.

Melihat daratan hawanya pengen nyetrit aja, terlebih terlihat pasar di dekat dermaga. Namun karena harus mempersiapkan bantuan yang akan di bawa, saya lupakan nyetrit itu. Biarlah bayangan yang menjadi memori tentang Labuhan Bajo.

Aktivitas kapal yang melayani pariwista ke Pulau Padar atau Komodo terlihat secara nyata. Dan itu menambah kebahagian tersendiri buat saya. Walaupun saya belum kesampaian sampai ke Pulau Komodo. Dengan melihat aktivitas saja sudah mengobati impian saya.

Jumat Berkah, saya bisa melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Agung Labuhan Bajo yang tidak terlalu jauh dari dermaga. Waktu yang sangat singkat ini saya gunakan untuk nyetrit tipis. Semua itu saya lakukan untuk menyalurkan hasrat visual saya. Setiap sudut penuh dengan peristiwa keseharian masyarakat. Pikir saya, sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. Semua peristiwa kehidupan itu saya abadikan buat anak cucu kelak. Walaupun sedikit masih ada waktu menikmati Labuhan Bajo di sela sela tugas yang banyak. Jika ada waktu lebih tentunya akan sangat menikmati sajian di sini, masyarakatnya juga ramah. Ini adalah kesan pertama saya menjejak di Timur Indonesia. Beruntung sekali saya bisa merasakan ibadah shalat jumat bersama saudara muslim di Bajo.

Bismillah menuju Nampar Sepang di Manggarai Timur

Perjalanan penuh liku segera di mulai dari Labuan Bajo, diperkiraan akan di tempuh dengan waktu 9 jam. Etape pertama Labuan Bajo – Ruteng.

“Yang bikin lama perjalanan adalah kelokan” ujar Babang Primus driver yang membawa kami.

Saya jadi teringat dengan Kelokan 44 di Sumatera Barat, jalan yang penuh kelok yang tajam. Ternyata di sini lebih tajam dan banyak sekali. Sampai pala berbie sering terantuk antuk di mobil. Tapi babang Primus keren cara nyupirnya, salut saya mah ama Babang Primus.

Ternyata goyangan laut itu belum seberapa. Goyangan kelokan Labuan Bajo ini lebih dahsyat, sampai ada rekan saya Mail (Relawan dari Sindrap) muntah muntah akibat kelokan ini.

Menjelang beduk magrib, menepi dahulu kita di pinggir jalan untuk sekedar membatalkan puasa dengan bekal. Ini adegan terindah yang saya rasakan selama perjalan ini. Ah pokoknya mah indah deh …. Walau hanya buka dengan kurma dan air putih serta cemilan cepuluh.

Setelah buka, kita lanjutkan perjalanan menuju Ruteng masih penuh dengan kelokan tentunya.

Tiba di Ruteng pukul 19.39 dihadapkan pada pilihan Nasi Padang, Soto atau Sate. Rasanya nyawa belum pada ngumpul deh. Akhirnya pilihan jatuh ke Sate Mas Nardi. Dan ternyata menu yang tersedia tinggal sate ayam saja menu yang lainnya sudah habis. Hebat bener ya jam segini udah habis, saya melihat beberapa pelangan yang datang dan kembali lagi karena yang di tuju sudah habis.

Pukul 19.53 baru datang pesanan minuman saja, satenya belum datang. Sambil nunggu sate sayah sudah habis dua bungkus krupuk hehehehehe, ga tau lapar atau kelaparan. Akhirnya Sate itu datang juga, kita sikat langsung aja.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah ke toko yang masih buka di Ruteng untuk membeli cemilan dan minuman teman perjalanan, karena perjalanan itu masih panjang.

Surprise ada Dodol Garut di jual di toko itu, sebagai turunan Garut tentu bangga banget. Ini merupakan perjalanan saya ke Indonesia Timur yang sangat menyenangkan.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes