My Photo Stories

Menjelajah Destinasi Digital di Kaki Langit

Kalau waktu cukup panjang, ingin sekali saya menikmati semua destinasi digital yang ada di Desa Wisata Kaki Langit. Apa daya saya hanya punya dua hari, jadi saya harus memilih sebagian saja supaya maksimal menikmatinya.

Tergelitik oleh dua  teman saya yang akan mengeksplorasi Desa Wisata Kaki Langit di Desa Mangunan, Bantul, sementara saya juga punya rencana ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah lomba foto, rencana pun berubah total selepas turun dari kereta api Progo. Saya langsung ke Pasar Beringharjo untuk membeli oleh-oleh supaya bisa dibukakan pintu rumah. Kalau nggak bawa, bakal tidur di halaman rumah sama istri, dan ini mah gawat sekali. Setelah selesai eksplor Pasar Beringharjo yang ngangenin itu, saya langsung berangkat menuju Pasar Kaki Langit di Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, untuk menyusul kedua teman saya yang sudah mulai mengeksplor duluan.

Setelah sampai, dan melihat sekurangnya ada 12 spot destinasi digital di desa wisata ini, saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu selama di Mangunan, apalagi waktu saya hanya dua hari di sini. Pasti tidak semuanya dapat dikunjungi karena terbatasnya waktu, sehingga saya harus memilih. Dan kemungkinan saya remedial ke Mangunan ini sangat besar, karena banyaknya spot yang bisa dikunjungi.

Setelah sarapan, kami menuju Homestay Joyo untuk sejenak istirahat dan membersihkan tubuh karena belum sempat mandi dari semalam. Baru menjelang sore kami eksplor satu keunikan yang ada di Desa Wisata Mangunan ini, yaitu melukis api.

Apa itu Melukis Api?

Pasti sangat kepo tentang hal ini, begitu pun saya begitu penasaran, apa sih melukis api ini.

Menjelang sore kami dijemput oleh Mas Kencrung, Pak Parman, dan Mas Sigit untuk melanjutkan eksplorasi desa ini. Merekalah yang mengenalkan Desa Wisata Mangunan ini dari spot ke spot dengan motor mereka.

Di salah satu homestay di desa ini, ada seorang yang memiliki kemampuan melukis dengan api, yakni Mas Ilul, yang sekaligus pemilik Homestay Sahara. Dengan media kayu mahoni, beliau bukan hanya menjual suvenir lukis api saja, namun menawarkan juga untuk bisa membuat suvenir sendiri dari lukisan api ini.

Destinasi Digital

Workshop melukis api di depan Homestay Sahara.

Di depan homestay-nya ada workshop kecil untuk membuat kerajinan lukis api ini, biasanya sore berkumpul untuk melukis di kayu. Sore itu waktu yang paling syahdu di sini menurut Mas Ilul. Udara sudah mulai adem, saatnya berkarya di sore hari. Namun saat kami datang belum terlihat aktivitas di workshop melukis api ini.

Destinasi Digital

Mas Ilul dengan hasil karya lukis api dari tamunya.

Dan jadilah sore itu kami menjadi tamu Mas Ilul dan istri. Di ruang tengah homestay terdapat beberapa karya lukis dari tamu yang sudah mencoba membuat karya dengan melukis api. Kerajinan yang sudah dibuat tamu sebenarnya boleh dibawa pulang, namun ada beberapa tamu meninggalkan untuk dipajang di homestay.

Destinasi Digital

Mas Teguh sedang melukis di talenan.

Setelah menjelaskan bagaimana melukis dengan api, Mas Ilul tiba-tiba memberikan kami 3 buah talenan untuk dilukis menjadi karya. Ini wow banget bagi saya yang tidak bisa melukis, ditantang bikin karya seni dengan medium kayu mahoni.

Karena tidak bisa menggambar, saya akhirnya membuat quote saja untuk digantung di kedai kopi kelak. “Kopi aseli itu digiling bukan digunting” ini karya yang saya buat, dengan menggunakan pensil untuk membuat perkiraan tulisan seperti apa. Melihat Mas Ilul mengambar sepertinya mudah sekali, namun ketika mencoba ternyata susah mengatur ketebalan tulisan yang dibuat. Kami bertiga menghasilkan karya lukis api ini tidak sampai satu jam. Artinya kegiatan ini sangat mudah dilakukan oleh siapa saja.

Destinasi Digital

Ini hasil karya saya bersama Kopi Ijen.

Bagi saya ini pengalaman yang sangat berkesan, bisa membuat karya seni dengan lukis api walaupun tidak mempunyai bakat melukis. Memang belum bagus, namun itu tetap karya yang harus saya apresiasi. Kalau kita tidak menghargai karya kita, siapa lagi yang akan menghargai? Menurut saya hal ini bisa dikembangkan untuk menunjang potensi wisata yang ada di Mangunan ini. Karena hal seperti ini sangat jarang di destinasi wisata. Menurut saya ini juga merupakan salah satu destinasi digital.

Kalau ingin merasakan suasana syahdunya Desa Wisata Mangunan ini dan bisa merasakan bagian dari keluarga Mas Ilul, nginap di homestay-nya saja. Pasti akan merasakan pengalaman yang tidak terlupakan.

Ini karyaku, mana karyamu?

Destinasi Digital

Karya saya di depan workshop lukis api. [Foto: Johan Alwi]

 

Puncak Becici

Destinasi Digital

Swafoto di spot ini seakan menjadi satu kewajiban. I was here!

Setelah belajar melukis api, menjelang matahari tengelam kami menuju Puncak Becici, sekitar 4 kilometer dari homestay. Saya dibonceng Mas Sigit menuju Puncak Becici. Saya sangat menikmati perjalanan menggunakan motor ini, karena bisa merasakan langsung udara yang segar.

Destinasi Digital

Mas Johan pemburu sunset.

Sebagai tukang foto keliling, momen memotret pemandangan di tempat baru sangat saya nantikan. Sehingga pasti saya kejar setiap ada momen sunrise dan sunset. Mas Kencrung memberikan saran, untuk sunset bisa dinikmati di Puncak Becici. Bagi saya motret alam itu sangat tergantung cuaca. Jika bagus tentu bisa menghasilkan foto bagus, namun jika cuaca kurang bersahabat tetap akan ada cerita di balik foto yang dibuat. Jadi proses membuat foto itu perlu dinikmati juga. Sing penting mah persahabatannya. Foto bagus itu merupakan bonus. Jadi apapun hasilnya tetap akan ada cerita di balik semua foto yang dibuat.

Destinasi Digital

Suasana di Gerbang Puncak Becici.

Memasuki gerbang Puncak Becici, sangat ramai sekali pengunjung di lokasi ini. Ini merupakan salah satu destinasi digital yang sudah masuk wilayah Desa Muntuk. Untuk bisa memasuki destinasi ini cukup membayar Rp 2.500 dan Rp 3.000 untuk swafoto di spot-spot ketinggian yang ada.

Destinasi Digital

Pengunjung asyik menikmati spot di Puncak Becici.

Walaupun pengunjung banyak, namun menjelang maghrib banyak yang sudah turun tidak menikmati sunset. Yang bertahan di spot berkurang sehingga saya sebagai tukang foto terbebas dari ‘bocor’ yang tidak perlu.

Destinasi Digital

Mari kita bekukan waktu untuk bisa menjadi kenangan.

Untuk mencapai spot instagramable ini dari gerbang cukup jalan kaki santai sekitar 5-10 menit saja.

Destinasi Digital

Menikmati senja dan menikmati kebesaran Allah.

Dari mendengar percakapan wisatawan yang ada, sepertinya banyak juga wisatawan yang dari negeri jiran. Artinya Puncak Becici ini sudah dikenal oleh masyarakat bahkan dunia. Ini mah harapan saya, semoga Puncak Becici dikenal orang melalui sosial media biar lebih cepat.

Nah sekarang sudah sampai Puncak Becici dan siap menikmati sunset di sini. Selain menikmati sunset di sini juga ada sekitar 5 spot untuk berswafoto seperti di atas awan. Jadi tinggal pilih saja mau difoto di spot mana, terus unggah ke sosial media. Syukur menjadi foto yang viral, kalau nggak pun akan menjadi kenangan indah di Puncak Becici.

Destinasi Digital

Ketika tOekangpoto menjadi model. (photo Johan Alwi)

Selain mau membuat foto sunset, di sela itu saya juga menjadi model foto buat Mas Johan. Alhamdulillah saya membawa properti kain Lombok yang bisa menjadi pemanis foto profil saya menjadi bidadara terbang. Ternyata tidak mudah menjadi seorang model, perlu kesabaran untuk mendapatkan foto yang cetar membahana itu. Tapi persiapan itu tidak akan mendustai hasil, teruslah berproses untuk tetap berkarya. Jadi bila ingin berwisata ke destinasi digital, mungkin perlu persiapan kostum dan properti yang oke, biar foto makin berbicara.

 

TAHUKAH TENTANG DESTINASI DIGITAL?

Secara simpel destinasi digital adalah menjual spot instagramable kepada para pengunjung yang datang, sehingga tercipta swafoto di tempat yang telah disedikan dan diupload ke sosoal media dan menjadi viral. Itu simpelnya. Jadi pengunjung tidak hanya merasakan pengalaman yang ada di destinasi, namun bisa merasa lebih dengan mengunggah ke media sosial.

Dan destinasi digital ini sudah menjadi bagian pengembangan pariwisata di tahun 2018. Diharapkan destinasi digital ini bisa terus bertambah untuk mendukung pariwisata Indonesia masa depan.

Dan alhamdulillah saya merasakan yang luar biasa di Desa Wisata Kaki Langit di Mangunan ini. Selain spot yang instagramable, bagi saya edukasi seperti melukis api bisa dikembangkan menjadi salah satu spot destinasi digital yang membuat pencerahan bagi para tamu yang datang

Selamat menikmati destinasi digital, dan rekamlah jejak digital untuk menjadi kenangan.

Please follow and like us:

6 thoughts on “Menjelajah Destinasi Digital di Kaki Langit

  1. Dudi Iskandar Post author

    Kalo liat di Magunan kebanyakan di destinasi wisata ada spot yang instagramable yang mengabungkan potensi alam yang ada di Bantul. Dan menghidupkan pasar seperti tempo dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes