My Photo Stories

Taman Sari Destinasi Tak Lekang Oleh Waktu

Cuaca sangat terik memayungi kota Pelajar. Ternyata tahun ini hampir seluruh kota di Indonesia sedang mengalami musim kering. Namun begitu tidak mengurangi semangat saya untuk terus mengeksplor kota yang ngangeni ini.

Dalam kondisi apapun saya tetap bertekad bulat untuk menikmati suasana Jogja. Panas bukan halangan untuk menikmati kota yang ke depannya akan sering dikunjungi.

Kedatangan saya kali ini memang bukan untuk travelling atau jalan-jalan. Tapi mengantar anak yang sebentar lagi akan belajar di Perguruan Tinggi. Setelah selesai urusan daftar sekolah, saya sempatkan untuk mengeksplor Jogja. Beberapa tempat sudah banyak yang dikunjungi. Saya ingat masih ada satu tempat yang terlewat untuk dikunjungi.

Saya ingin berbagi satu destinasi wisata yang tak lekang oleh waktu. Tak lekang, karena situs wisata yang satu ini berupa bangunan kuno. Konon mulai ada sejak abad ke-18 Masehi. Meskipun bangunan ini Nampak kuno tapi justru paling diminati oleh kaum milenial. Pasalnya beberapa sudut yang terdapat di dalam bangunan ini sangat indah untuk diabadikan dengan bidikan kamera. Baik kamera digital ataupun kamera henpon. Lalu, mereka membagikannya ke media sosial jadilah situs ini dikenal. Dan, sejak saat itu banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara datang ke situs ini. Inilah salah satu cara mempromosikan tempat wisata daerah, terutama situs-situs yang kurang dikenal atau kurang perhatian. Cara seperti ini memang sangat efektif untuk dilakukan. Buktinya banyak tempat wisata di Indonesia cepat terkenal.

Kaum milenial menyebut tempat yang bagus difoto dengan sebutan instagramable. Di dalam situs terdapat sebuah tempat bernama Sumur Gumuling. Sepanjang perjalanan menuju Sumur Gumuling banyak spot-spot kece yang sayang bila tidak diabadikan. Semuanya menarik perhatian, sebentar-sebentar saya berhenti untuk berfoto atau swafoto. Peninggalan yang patut dipelihara dan dirawat kelestariannya. Beberapa wisatawan yang pernah ke Jogya pasti tahu tempat ini. Kira-kira apa nama tempat ini ya?

Taman Sari

Ya, nama situs yang sedikit sudah saya ulas di atas adalah Taman Sari. Cuaca panas membuat Taman Sari menjadi sangat cerah. Saking cerahnya membuat saya semakin bersemangat mengeksplor Taman Sari. Bahkan menurut saya, suasana di Taman Sari terlihat begitu eksotis. Kecerahannya melambai-lambai seolah-olah mengajak bercengkrama. Saya jadi tidak peduli dengan suasana yang terik ini, pelan tapi pasti saya terus menyusuri area Taman Sari. Sesekali berhenti untuk berfoto atau mengambil sudut-sudut tempat.

Sejarah singkat. Taman Sari mulai dibangun pada abad-18 oleh seorang arsitek bernama Tumenggung Mangundipura. Beberapa lokasi di sekitar Taman Sari yang berupa rumah-rumah penduduk juga bisa dieksplor. Nyaris semua bangunan di situ masih terjaga keutuhannya. Sungguh, sebuah usaha maksimal yang dilakukan oleh Pemda setempat untuk melestarikan situs budaya. Warisan yang tak tenilai ini tidak akan pernah ada lagi jika kita tidak merawatnya dengan baik.

Ketika saya berkunjung kemarin nampak wisatawan cukup banyak. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara, Mereka juga sama seperti diriku, pantang menyerah meski cuaca sangat terik. Aura keindahan yang dipancarkan Taman Sari lebih memukau daripada terik matahari. Mereka tidak hanya mengagumi Taman Sari, tapi mengabadikannya dengan lensa. Begitupula dengan ku, sayangnya aku tidak bisa mendapatkan foto yang tanpa objek. Mengingat banyak wisatwan jadi harus sabar jika mau menunggu sampai sepi.

Meskipun sepanjang mata memandang hanya ada bebatuan dan ornament yang berlumut. Justru di situlah keindahannya, batu dengan lumut yang terpapar matahari jadi kering kerontang. Sudut bangunan juga bisa menjadi background yang indah buat foto. Semua sangat alamiah, bukan seperti background foto di studio atau editan foto. Sungguh sebuah yang melegenda, mengingatkan kita pada kehidupan jaman raja-raja Jawa dahulu. Dan, secara nggak langsung ingatan saya pun melayang kembali ke masa itu. Jaman raja-raja Jawa yang ceritanya sempet saya ketahui dari pelajaran sejarah waktu di Sekolah Menengah Pertama.

Lokasi Taman Sari tidak jauh dari Keraton Jogja, jadi kalau berkunjung ke Keraton Jogja sempatkan singgah ke Taman Sari. Tiket masuk ke lokasi hanya 5000 rupiah ditambah biaya perijinan mengambil foto sebesar 3000. Sangat murah bukan? Harga segitu terasa sangat murah karena situs yang dieksplor luar biasa. Taman Sari sendiri dulunya adalah bekas tempat pemandian untuk keluarga raja. Adapun keluarga raja yang boleh menggunakan Taman Sari yaitu raja, permaisuri, istri lainnya ( selir ) dan putra putri raja.

Taman Sari memiliki bangunan utama, bernama Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun. Dahulu kala tempat ini hanya dikhususkan buat keluarga raja saja. Permaisuri, istri selir dan putrid raja mandi di Taman Sari, hanya raja saja yang boleh masuk ke area ini. Tempat ini memang sangat terjaga privasinya. Setelah mengitari area Umbul Binangun, eksplor Taman Sari dilanjutkan ke Sumur Gumuling. Melewati pintu keluar saya melihat ada bebrapa pembatik dan pembuat kerajinan wayang kulit. Seketika, adrenalin saya langsung terpacu karena menemukan subjek foto dengan tema human interest.

Sebelum saya memotret, saya coba berdialog sebentar dengan pengrajin wayang kulit bernama Pak Paijo (58). Pak Paijo sudah hampir 47 tahun berprofesi sebagai pengrajin wayang kulit. Saya salut dengan ketekunan. pak Paijo dalam mengeluti wayang kulit ini, sangat jarang orang yang mau susah payah mempertahankan budaya Indonesia. Nggak lama kami mengobrol, terdengar suara adzan dzuhur. Pak Paijo dengan sopan mohon pamit untuk melaksanakan sholat dzuhur di Mesjid dekat Taman Sari. Sungguh, saya sempet tergugu melihat ketekunan Pak Paijo menjalankan sholat lima waktu. Di tengah pekerjaannya yang menumpuk beliau mau meninggalkannya untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta. Bagi saya, ini sebuah pelajaran berharga yang tak akan dijumpai di manapun.

Sumur Guling

Berbeda dengan Umbul Binangun, suasana di Sumur Guling lebih teduh. Udara semilir terasa dari hembusan angin. Sumur Guling juga mempunyai spot foto yang kece. Bahkan di sela-sela seberkas cahaya yang masuk makin membuat eksotis. Semakin masuk ke bawah, udara semakin adem. Kebetulan waktu saya turun, ada sepasang calon pengantin sedang melakukan foto prewedding. Sumur Guling mirip sendiri merupakan bangunan berbentuk melingkar seperti cincin. Bangunannya terdiri dari dua lantai, pintu masuk ke dalam bangunan melalui terowongan bawah air.

Dulu nya Sumur Guling ini difungsikan sebagai Mesjid. Terbukti, di setiap laintainya ada mihrab buat Imam Sholat. Ketika mulai memasuki lorong, ada empat ruas menuju tengah bangunan sebelum ke lantai dua. Di sinilah spot yang paling banyak buat foto-foto. Saya lihat kaum milenial berpose untuk mendapatkan foto yang kece. Turun lagi ke bawah terdapat kolam untuk berwudhu. Hanya ada satu tangga untuk turun ke bawah. Dan, tangga ini juga menjadi spot kece buat fot


Jadilah jika ingin berfoto harus bergantian atau ngantri. Spot tangga ini menjadi spot primadona dari Sumur Guling, bukti jika sudah mengunjungi Sumur Guling ya di spot ini.

Please follow and like us:

2 thoughts on “Taman Sari Destinasi Tak Lekang Oleh Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes