My Photo Stories

Taman Sari Sebuah Destinasi Tidak Lekang Oleh Waktu

“Secara garis besar Milenial Tourism itu adalah pariwisata untuk generasi milenial yang menuntut penggunaan digital dalam kegiatan travelling dalam setiap prosesnya. Terutama sekali destinasi tujuan harus instagramable.”

Jika bicara tentang generasi milenial tidak akan terlepas dari namanya berfoto di destinasi wisata. Sehingga pemerintah melalui Kementerian Pariwisata tahun lalu mencanangkan Destinasi Digital sebagai andalan dalam mengaet wisatawan. Pengalaman saya ke beberapa tempat wisata selalu ada orang yang ber swafoto untuk dijadikan kenangan terindah. Kadang saya juga suka berswafoto untuk sebuah kenangan indah.

Apa sih Millenial Tourism itu ?

Ada yang tahu ga Millenial Tourism manteman, kalau belun tahu coba saya paparkan apa di sini aja.

Salah satu kekuatan Millenial Tourism adalah spot foto yang instagramable, karena konektifitas dunia digital yang sangat membutuhkan kecepatan. Terlebih untuk kebutuhan sosial media. Tidak ada kenangan indah tanpa narsis.

Menurut saya memang jaman sudah berubah, bergerak sangat cepat. Terutama dalam dunia digital saat ini informasi sangat cepat mengalir ke dalam kehidupan kita. Sehingga dunia pariwisata juga harus bisa menyesuaikan dengan generasi milenial. Apa saja kebutuhan yang mendasar dibutuhkan oleh generasi milenial terutama untuk bisa eksis di dunia maya. Ini merupakan sebuah tantangan baru dalam dunia pariwisata Indonesia. Bagaimana bisa mengaet generasi millenial untuk berwisata.

Secara garis besar Milenial Tourism itu adalah pariwisata untuk generasi milenial yang menuntut penggunaan digital dalam kegiatan travelling dalam setiap prosesnya. Terutama sekali destinasi tujuan harus instagramable. Makanya sebelum traveling biasanya Generasi Milenial ini riset tentang destinasi di satu daerah tertentu. Banyak destinasi wisata menjadi ramai pengunjung setelah viral di media sosial, sehingga orang ingin datang ke tempat wisata yang sedang viral.

Minggu kemarin saya sempat menjelajah Jogja secara sepintas saja karena ada keperluan keluarga. Tapi kesempatan tipis pun saya sempatkan untuk menikmati wisata di Jogja ini. Saya ingin berbagi tentang satu destinasi wisata yang tak lekang oleh waktu. Karena lokasi ini merupakan sebuah bangunan sangat lama dari Abad ke 18, namun untuk para generasi milenial juga masih sangat cocok karena instagramable banget destinasi ini, terutama lokasi Sumur Gumuling.

Ada yang tau kira kira apa ? Ya benar Taman Sari

Siang itu udara cukup terik di daerah Taman Sari ini, dalam beberapa hari ini memang tidak ada hujan turun. Sehingga lumayan menguras tenaga juga udara yogya hari itu. Namun panasnya udara tidak menghalangi saya untuk bisa menikmati suasana Taman Sari dan sekitarnya.

Taman Sari ini mulai di bangun pada abad 18 oleh seorang arsitek Tumenggung Mangundipura, ada beberapa lokasi yang bisa di eksplor di sini. Walau sudah ada rumah rumah penduduk, beberapa bangunan masih sangat terjaga keutuhannya.

Sampai di lokasi ini, kurang lebih menjelang adzan dzuhur saat matahari sedang di atas kepala kita. Dan hari itu wisatawan lumayan banyak memenuhi destinasi ini, baik lokal maupun mancanegara.

Di lokasi ini saya coba untuk membuat foto dokumentasi tentang keadaan Taman Sari ini dari berbagai sudut. Namun agak sulit untuk mendapatkan foto yang clear tanpa ada wisatawan harus sabar menunggu momen. Ini merupakan tantangan untuk mendapatkan foto terbaik dengan waktu yang terbatas. Banyak sudut bangunan yang bisa di eksplor.

Untuk mencapai lokasi ini sangatlah mudah, karena dekat sekali dengan Kraton Jogja, sehingga bisa langsung sekali jalan untuk menikmati Taman Sari. Kalau belum tahu lokasi, nanya ke orang saja pasti tahu dan sangat mudah untuk di cari.

Setelah membeli tiket retribusi Rp 5000 dan ijin memotret menggunakan kamera Rp 3000, pengunjung bisa langsung menikmati keindahan bangunan Taman Sari yang di sebut Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun. Komplek ini merupakan kolam pemandian untuk Sultan, Permaisuri, istri (baca selir) serta para putri raja.

Pada jaman dulu tempat ini sangat khusus untuk Sultan, Permasuiri, Istri dan para putri raja, karena di tempat ini mereka mandi sehingga hanya perempuan saja yang bisa masuk ke dalam area Umbul Binangun ini, kecuali Sultan.

Taman Sari

Tempat Sultan dan Permaisuri mandi

Di Umbul Binagun merupakan tempat yang sangat privasi antara sultan dan permaisuri saja yang bisa ada di tempat ini.

Setelah selesai di Umbul Binangun, saya ingin melanjutkan ke Sumur Gumuling, namun setelah keluar ada yang sangat menarik perhatian saya, ada pembatik dan pembuat wayang kulit. Nah adrenalin saya langsung naik karena menemukan subjek foto human interest yang natural banget.

Sebelum memotret kegiatan pembuat wayang kulit ini, saya coba untuk ngobrol terlebih dahulu dengan Pak Paijo (58) yang sudah mendalami pembuatan wayang kulit ini selama 47 tahun.

Ketika adzan dzuhur terdengar secara spontan Pak Paijo minta ijin untuk melaksanakan sholat dzuhur di Masjid dengan Taman Sari. Sungguh beruntung saya bertemu dengan seorang yang taat. Walau sesaat bertemu dengan beliau, mendapat pelajaran yang sangat berharga.

Sumur Gumuling

Berbeda suasana dengan Umbul Binangun, Sumur Gumuling sangat adem sekali dan spot sangat eksoktis banget untuk di foto. Permainan cahaya masuk menjadikan sesuatu yang berbeda dengan keadaan di atas. Walaupun panas terik, di sini tidak terasa sama sekali karena sudah di bawah tanah. Pada saat saya berada di sana ada sepasang calon pengantin yang sedang melakukan sesi foto prewedding. Karena tempat ini memang sangat eksotis dan instagramable banget untuk di foto. Tinggal mencari sudut yang pas saja supaya foto bisa menjadi viral.

Saya sangat suka sekali dengan spot ini, banyak sekali sudut yang bisa di eksplor untuk membuat kenangan semakin indah. Karena di bawah tanah, pencahayan minim dan ada gelap terang yang membuat adrenalin meningkat.

Ada satu tempat lagi yang sangat eksotis dan instagramable menurut saya, yaitu Sumur Gumuling, bangunan yang berbentuk lingkaran seperti cincin. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, pintu masuk ke dalam bangunan ini melalui terowongan bawah air. Pada zaman dulu Sumur Gumuling ini difungsikan sebagai masjid. Ada mihrab di setiap lantai untuk imam memimpin sholat.

Ketika mulai memasuki lorong

Ada empat ruas menuju tengah bangunan sebelum ke lantai dua. Di sinilah spot sejuta umat generasi milenial berfoto. Dan hanya ada satu tangga menuju lantai dua. Nah di bawah tempat pertemuan jenjang ini ada kolam untuk berwudhu.

Spot inilah yang sangat instagramable itu, dimana semua orang ingin mempunyia foto di tempat ini. Kita harus pandai mengatur waktu dengan orang lain supaya foto tidak ada orang lain di spot ini.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes