My Photo Stories

Therapeutic Photography : Respon Bencana di Pasigala (Palu Sigi Donggala)

Dalam ajang Jipfest 2019 ini ada salah satu event mengenai Therapeutic Photography (TP) sebagai respon Bencana di Pasigala (Palu Sigi Donggala). Menarik sekali tema jipfest ini, jarang ada event fotografi membahas tentang fotografi sebagai terapi. Ini tema yang sangat langka sekali dalam dunia fotografi. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa menerima ilmu langsung dari para pelaku TP ini. Ada yang kepo seperti sayah ini ga ya? Mudah mudahan banyak ya, sehingga catatan kecil sayah ini juga akan menjadi manfaat bagi yang membacanya.

Sebelum cerita apa itu TP, maka ijinkan sayah memberikan apresiasi kepada Jipfest 2019 yang mengangkat tema ini dalam rangkaian acaranya. Salut Jipfest ……..

Jipfest 2019

Caron Toshiko berbagi pengalaman di Jipfest 2019

Paling enak kerja itu yang sesuai dengan hobi atau passion kita. Caron Toshiko sangat beruntung bisa mengabungkan dua hal fotografi dan psikologi dalam satu bingkai. Tiada yang lebih membahagiakan bagi Caron Toshiko bisa mengamalkan ilmu dan menolong kesusahan orang lain melalui fotografi.

Salut buat Jipfest yang mengangkat sebuah tema yang sangat jarang sekali di dunia fotografi ini. Mengabungkan dua hal yang menjadi kesukaan adalah sesuatu yang membahagiakan. Caron Toshiko membagikan pengalamannya saat memberikan pelatihan fotografi kepada remaja penyintas di Pasigala, saat terjadi musibah Gempa, Likuefaksi dan Tsunami yang terjadi di Pasigala.

Kilas balik di tahun 2011 komunitas tOekangpoto juga pernah memberikan trauma healing melalui pendekatan fotografi tapi memang belum sedalam apa yang dilakukan oleh Coran di Pasigala ini.

Kegiatan Jeprat Jepret Merapi di hunian sementara dan Pameran Foto Karya anak Merapi dengan tema “Belajar Dari Mereka” . Saat itu kami berpikir bagaimana bisa membuat anak dan remaja penyintas di Merapi bisa senang dan melupakan kejadian bencana yang terjadi.

Namun Caron dan tim PKBI bisa lebih mendalam lagi memberikan makna terhadap foto yang dihasilkan para remaja penyintas ini. Ada benang merah yang bisa di tarik dari foto yang dihasilkan oleh remaja penyintas tersebut bahkan bisa sangat personal sekali karya ynag dihasilkan. Sehingga makna dan rasa yang ditimbulkan oleh karya foto para remaja penyintas ini menjadi lebih greget, walaupun baru mengenal dunia fotografi belum lama.

“Ini di luar ekspektasi saya” ujar Caron terhadap karya dihasilkan para remaja ini. Karya yang dihasilkan cenderung menjadi karya yang sangat personal sekali, bukan trauma terhadap bencana. Proses pendampingan seharusnya bisa dilakukan untuk memberikan solusi jangka panjang tidak hanya sesaat untuk melepaskan emosi saja. Tapi dengan ada kegiatan ini saja sudah merubah mindset dari remaja penyintas untuk tetap semangat dan bisa bangkit.

“Ketika mengalami trauma itu adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidup anda.” Ujar Prof Irwanto Phd dalam mini seminar therapeutic photography. Beliau juga pernah membuat kegiatan foto voice sekitar tahun 1998, salah satu metode mengekspresikan diri melalui karya foto. Jadi TP ini puzzle nya sudah makin jelas, bahwa fotografi bisa menjadi jembatan untuk terapi trauma.

Putri seorang penyintas Pasigala merasa senang bisa mewakili teman teman di Pasigala bisa hadir di acara ini.

Bencana yang terjadi dalam satu malam itu memporakporandakan impian remaja di Pasigala, ga tau harus berbuat apa.

Workshop fotografi ini bertujuan untuk membangkitkan semangat remaja pasigala melalui fotografi. Dengan adanya hal ini mereka merasa terhibur dan terlepas beban dan yang paling penting adalah mereka merasa tidak sendiri. Mereka menjadi keluarga baru yang saling mendukung satu sama lainnya.

Sungguh sayah sangat beruntung bisa hadir di acara seperti ini, yang masih sangat jarang sekali membahas sisi lain dari fotografi. Ternyata ada manfaat lain dari fotografi untuk menjadi salah satu jalan terapi membangkitkan semangat.

Sukses buat Jipfest, Caron dan kita semua.

Jakarta, 3 Juli 2019

Kang Dudi

Please follow and like us:

2 thoughts on “Therapeutic Photography : Respon Bencana di Pasigala (Palu Sigi Donggala)

  1. mt

    topik yang menarik dan saya baru menyadari bawa fotografi bisa menjadi terapi trauma healing. padahal dalam pikiran kebanyakan orang, justru memotret bencana malah akan memperkuat melekatnya duka. respek buat Caron Toshiko dan temen-temen fotografer.

Leave a Reply to Dudi Iskandar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

rumah murah
easy cookie recipes